Monday, February 27, 2012

Tergoda Syahwat, Kuncinya Takut kepada Allah

Dorongan seksual. Soal yang satu ini sering membuat heboh. Al-Ghazali menyebutnya nafsu syahwat. Tentangnya, Islam memberi perhatian yang sangat serius, kerana hal ini merupakan persoalan yang universal. Siapapun jika sudah sampai waktunya pasti akan menghadapinya.

Ahli-ahli falsafah, saintis, budayawan, sasterawan, dan seniman tidak ada yang lupa membahas tema di seputar masalah cinta, asmara, dan gejolak jiwa. Masing-masing mengupas dari disiplin ilmunya. Ahli falsafah mengupas dari asal-muasalnya, sejarah, dan tinjauan falsafah lainnya. Para saintis bicara soal cinta dari aspek biologis, psikologis, dan sosiologis. Para budayawan mengaitkan masalah cinta dengan budaya bangsa, hubungan kemanusiaan, dan pembangunan peradaban manusia.


Para sasterawan lebih halus lagi. Mereka bisa mengeksploitasinya menjadi jualan yang laris manis, bak pisang goreng di petang hari. Lebih-lebih lagi para seniman. Apalagi bagi mereka yang berprinsip seni untuk seni, semua segi dari kehidupan cinta merupakan puncak seni yang paling eksotis dan indah.

Al-Qur'an ternyata tidak lupa untuk berbicara soal ini, bahkan disebut berulang kali dalam kisah-kisah yang indah. Cinta antara Yusuf dengan Zulaikha disebut hampir detail, walaupun dengan bahasa yang halus, tanpa membangkitkan asmara. Begitu juga kisah Sulaiman yang berhasil meruntuhkan hati ratu Balqis. Al-Qur'an juga mengisahkan perjalanan Musa hingga bertemu dengan dua puteri Nabi Syu'aib, yang kemudian menjadi isterinya. Ketiga kisah di atas dikemas dalam bahasa yang indah, halus, penuh makna, tanpa menimbulkan sedikitpun nafsu rendah.

Dalam kisah Yusuf dikesankan bahwa Zulaikha lebih aktif, bahkan agresif. Wanita itulah yang berinisiatif memulai, sedangkan Yusuf bertahan dengan imannya. Sebaliknya pada kisah Sulaiman, justeru lelaki ini yang menyebabkan ratu Balqis dengan lantai kacanya sampai-sampai ratu itu menarik kain panjangnya hingga tersingkap kakinya.

Ternyata urusan nafsu syahwat ini tidak pandang lelaki atau wanita. Kedua-duanya mempunyai dorongan yang sama. Bezanya terletak pada kemampuan untuk mengendalikan. Ada kalanya lelaki tidak kuat menahan gejolak nafsu seksualnya, kadang pula si wanita yang tak mampu menahannya. Memperhatikan gejala di atas, maka Islam memberi perhatian yang sama terhadap kedua jenis gender ini. Perintah Islam untuk menahan diri dari nafsu syahwat berlaku sama, baik untuk lelaki mahupun wanita.

Ketika Islam mewajibkan lelaki untuk menundukkan pandangan, maka wanita diwajibkan untuk menutup seluruh auratnya. Lelaki tidak aktif melihat, sementara wanita tidak sengaja mempamerkannya. Suatu kerjasama yang indah.

Akan tetapi kerjasama itu sering kali dirosak oleh para seniman. Atas nama seni mereka mencuba untuk membangkitkan syahwat melalui lagu-lagu bersyair cinta, novel percintaan, gambar-gambar porno, filem dan tayangan, serta tontonan lainnya. Apalagi di saat sekarang, ketika TV dapat menembus tembok rumah dan dinding-dinding kamar tanpa batasan. Lebih-lebih, ketika semua rumah memasang antena parabola dan tersambung saluran internet.

Bagi golongan muda, soal menahan nafsu syahwat bukan pekerjaan mudah. Terlalu banyak godaan bermain-main di depan mata. Seakan hanya ada dua pilihan bagi para pemuda kita, iaitu menggoda atau digoda.

Menghadapi kenyataan ini, tiada alternatif lain bagi para pemuda kecuali mempertebal iman dan menyibukkan diri dalam perjuangan menegakkan Islam. Kesibukan di luar itu, baik dalam organisasi sekolah atau luar sekolah justeru sering mengundang masalah. Organisasi sering menjadi medan bagi melenyapkan hasrat-hasrat syahwat, sekecil apapun bentuknya.

Apakah lagi yang akan mampu membentengi seorang pemuda ketika berada di rumah kekasihnya, sedang ayah dan ibunya tiada di rumah? Apa yang membentengi pemuda tersebut ketika sang kekasih menjatuhkan diri di pangkuannya dan berserah diri kepadanya? Jika bukan iman, benteng setebal apapun akan runtuh.

Jika hanya ketakutan kepada orang tua, bukankah orang tua tidak ada di rumah? Jika takut hamil, bukankah telah banyak beredar alat pencegah kehamilan? Jika sekadar takut selain kepada Allah, semua boleh ditangani. Apalagi syaitan sangat senang menemani orang yang keji seperti ini. Syaitan dengan akal liciknya akan mencarikan berbagai cara untuk melancarkan jalan. Ada seribu satu jalan untuk melakukan hal itu. Apatah lagi di zaman sekarang.

Di sini baru dirasakan mahalnya iman. Di saat syaitan mengepung, ketika nafsu dalam diri bergejolak, hasrat meronta-ronta, di saat itulah harga seseorang ditentukan. Jika bertahan, bererti imannya masih tersisa. Jika tak ditahan, harganya sangat murah. Nilainya rendah atau tak bernilai apa-apa.

Dalam sebuah riwayat Abdullah bin Umar, Rasulullah menceritakan sebuah kisah yang terjadi pada ketika dahulu. Kisah itu sangat erat kaitannya dengan masalah yang sedang dibahaskan, iaitu tentang tiga pemuda yang terperangkap di dalam gua lantaran batu gunung yang besar tiba-tiba bergolek menutupi mulut gua. Ketiga-tiga pemuda tersebut telah berusaha keras menolaknya, tapi sia-sia saja. Batu penutup itu tak bergeser sedikitpun juga. Hampir-hampir saja ketiga orang itu berputus asa, sampai akhirnya ada yang berkata, "Kita tidak mungkin dapat selamat dari batu ini kecuali jika berdoa kepada Allah dengan wasilah (perantara) kebaikan kita."

Satu persatu mereka berdoa dengan menyebut kebaikan yang pernah ia lakukan sebelumnya. Setiap kali seusai salah seorang di antaranya berdoa, mereka berusaha menggeser batu itu dan berhasil menggesernya sedikit. Sampai ketiganya menyelesaikan doanya, dan batu itu bergeser sehingga mereka dapat keluar dari gua tersebut.

Di antara ketiga orang di atas, ada seorang pemuda yang dalam munajatnya ia berkata, "Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah mengetahui bahwa aku memiliki saudara sepupu perempuan yang sangat aku cintai di antara manusia. Aku merayunya untuk menyerahkan dirinya kepadaku, tetapi ia menolakku sehingga aku menanggung beban kerinduan kepadanya setahun lamanya. Lalu, datanglah dia padaku dan aku memberinya seratus dua puluh dinar agar dia mahu berdua-duaan denganku. Dia menerima wang tersebut, tetapi ketika aku menguasainya ia berkata, "Takutlah engkau kepada Allah dan janganlah engkau melanggar cincin perawan itu kecuali dengan haknya." Maka, aku berasa berdosa setelah memperdayakannya, lalu aku pergi meninggalkannya. Padahal dialah wanita yang paling aku cintai, dan aku membiarkan wang emas yang aku berikan kepadanya. Ya Allah, jika aku melakukan itu kerana ingin mencari keredhaan-Mu, maka hilangkanlah dari kami apa yang sedang kami hadapi ini."

Ketulusan hati dan kata-kata pemuda itu telah menggetarkan langit, hingga bergeserlah batu yang menutup pintu gua. Sampai orang yang ketiga berdoa, dan bergeserlah batu yang menutup pintu gua itu sehingga cukup bagi mereka untuk keluar dengan selamat.

Kisah-kisah seperti ini hendaknya menjadi teladan, utamanya bagi para muda-mudi. Jika bisa ditahan nafsu pada saat-saat genting seperti itu, Allah akan memberi balasan yang luar biasa besarnya. Jika meminta pertolongan, Allah akan menolong. Di saat-saat genting, bahkan kebaikan mampu menjadi wasilah atas pertolonganNya.

Abu Bakar bin Abdullah al-Muzni menceritakan, bahawa ada seorang penjual daging yang tertarik pada seorang anak wanita tetangganya. Pada suatu hari anak wanita itu diperintahkan oleh keluarganya pergi ke desa lain untuk suatu keperluan. Maka penjual daging itu mengekoriinya dan merayu wanita itu agar ia mahu menyerahkan dirinya.

Anak wanita itu berkata, "Jangan engkau lakukan hal itu, kerana sesungguhnya aku lebih mencintaimu daripada engkau mencintai aku. Akan tetapi aku takut kepada Allah."

Penjual daging itupun sedar seraya berkata, "Engkau takut kepadaNya, mengapa aku tidak takut?"

Kata-kata wanita itu mengenai jantungnya, sehingga penjual daging itu membatalkan niat jahatnya. Dia pun pulang dan merenungi kejadiannya. Sepanjang perjalanan ia bertaubat kepada Allah.

Di tengah perjalanan pulang dia merasa kehausan. Tiba-tiba dia bertemu dengan seorang utusan Bani Israel yang bertanya kepadanya, "Mengapa engkau?" Dia menjawab sedang kehausan. Kemudian utusan itu berkata, "Kemarilah, kita berdoa kepada Allah agar kita dinaungi awan hingga memasuki kawasan perkampungan." Akan tetapi penjual daging itu berkata, "Tiada amal solehku yang dapat aku gunakan untuk berdoa." Utusan Bani Israel menjawab, "Akulah yang akan berdoa dan tugasmu meng-amin-kan saja."

Setelah mereka berdoa, tiba-tiba datanglah awan menaungi mereka hingga mereka sampai di desa. Penjual daging menuju ke tempat tinggalnya, tetapi awan itu membelok bersamanya, kemudian utusan itu berkata, "Aku kira engkau tidak memiliki amal soleh, maka akulah yang berdoa dan engkau mengaminkan. Tetapi ternyata awan itu mengikutimu. Ceritakanlah kepadaku tentang pengalamanmu." Si penjual daging itupun menceritakan peristiwa yang baru dialaminya. Lalu utusan Bani Israel menambah, "Sesungguhnya orang yang bertaubat di sisi Allah berada dalam kedudukan yang tidak ada seorangpun di antara manusia berada dalam kedudukannya itu."

Kedua kisah di atas cukup menjadi bekal bagi kita, utamanya generasi muda agar tidak terjerumus dalam lembah hitam yang sangat mengerikan. Jauhilah pandangan mata yang disulami syahwat keji, sebab tindakan itulah yang paling utama dalam penjagaan diri dan nafsu kita.

Bila kita sudah berada di dalam situasi yang sangat gawat, ingatlah bahwa Allah bersama kita, melihat dan mengawasi kita. Takutlah kepadaNya, dan segeralah bertaubat, jangan sampai diri kita melakukan perbuatan yang terkutuk dan tercela. Taubat kita akan menjadi penolong, baik semasa hidup di dunia mahupun kelak di akhirat, kerana taubat itulah yang memisahkan kita antara sebaik-baik kejadian dan seburuk-buruk perbuatan. Lantaran kesedaran kitalah segala maksiat dapat dielakkan.

0 comments:

Post a Comment